Berfikir Tafakur Sebagai Jalan Masuknya Hikmah
Menerima kebenaran dan menemukan kebenaran adalah suatu yang berbeda. Menerima kebenaran cukuplah dengan bertaqlid (mengikuti), sedangkan menemukan kebenaran hanya akan diperoleh melalui pemikiran yang mendalam (tafakur). Kebenaran yang ditemukan sendiri, ibarat mata air yang tak pernah kering, sedangkan kebenaran yang kita terima dari manusia, ibarat hujan di musim kemarau.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata :
" Janganlah kamu mengenal dan mengikuti kebenaran karena tokohnya, tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya kamu akan mengetahui siapa tokohnya. "
Mengetahui kebenaran sebagaimana yang disebutkan diatas , itulah yang disebut hikmah. Dengan hikmah, manusia akan lebih mudah menjalani hidup sesuai kehendak illahi, karena hikmah akan berfungsi sebagai kendalinya.
Sama seperti halnya dengan rezeki, maka al-hikmah pun hanya diberikan Allah swt kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya; yaitu orang yang menggunakan kemampuan akal dan rasa yang dimilikinya untuk berfikir (tafakur). Semakin sungguh usaha yang dilakukannya , maka semakin tinggi pula kualitsa al-hikmah yang diperoleh dari-Nya.
Ali bin Abi Thalib r.a berkata :
" Tiadalah ilmu yang lebih baik daripada hasil tafakur "
Didalam Al Quran, ditemukan tidak kurang dari 130 kali perintah Allah untuk berfikir (antara lain pada surat Shaad:29, Adz-dzariaat: 20-21, Yunus:24); serta kehinaan akan menimpa orang yang tidak mau berfikir ( Al Furqan:44, Al Aaraf:179, Al Mulk: 10).
Berpikir terbukti merupakan pelita hati. Orang yang serius dengan berpikir tentang apa yang telah Allah ciptakan, ataupun tentang sakaratul maut, maupun kesulitan yang dijumpai di akhirat kelak, niscaya akan mendapat pencerahan jiwa.
Rasulullah saw pun pernah bersabda : " Bertafakur sejenak lebih baik dari pada ibadah satu tahun."
Apa yang harus ditafakuri?
Sesungguhnya buah dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan ilahiyyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar selalu taat pada perintah Sang Maha Pencipta.
- Bertafakur mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Maha Pencipta, akan lahir rasa rendah hati dan rasa takzim akan keagungan Allah
- Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan, akan lahir rasa cinta dan syukur kepada Allah.
- Bertafakur mengenai janji-janji Allah, tentang kehidupan akhir, akan lahir cinta kepada alam akhirat.
- Bertafakut tentang ancaman Allah, akan lahir rasa takut kepada Allah
etc.
Contoh tafakur ringan :
Bila direnungkan, sedetik dari hidup ini pun sudah mukjizat. Bagaimana kita bisa bernafas, punya jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya semuanya sungguh menakjubkan!
Tambahan :
- Jalaludin Rakhmat dalam bukunya " Islam aktual " berpendapat, seorang muslim dituntut secara sadar yaitu dengan menggunakan seluruh kemampuan/potensi intelektualnya. Menurutnya, karena itulah Al Quran bertanya kepada Muslim; " Katakanlah apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat ? Tidakkah mereka berpikir?"
- Dr.Ir. Muhammad Imaduddin Abdulrahim MSc dalam bukunya " Kuliah Tawhid", hikmah atau hidayah Allah tidak pernah diberikan Allah secara cuma-cuma, tetapi hanya diberikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh menggunakan akal dan rasanya yang dimilikinya.
- Dr. Nurcholish Madjid, " Pintu-pintu Menuju Tuhan ", Al Quran dari waktu ke waktu menggugat manusia manusia untuk berfikir, merenung dan menggunakan akalnya. Berfikir adalah sebagian dari petunjuk Allah ke arah iman kepada Nya.
Al Quran tanpa akal lumpuh, Al Quran tanpa bimbingan Al Quran akan tertipu
Artikel ini ditujukan kepada Komunitas Blogger Indonesia
0 komentar:
Posting Komentar